Tips Ustadz Adi Hidayat Agar Anak Cepat Hafal Alquran

Gambar
Moslemcommunity - SETIAP orangtua muslim pasti menginginkan anaknya bisa menghafal Alquran. Hanya saja jika tidak memiliki ilmunya, mengajarkan hafalan Alquran kepada si kecil sedikit sulit. Namun mulai sekarang jangan khawatir, sebab Ustadz Adi Hidayat membagikan tipsnya. Dalam video yang diunggah akun Instagram faidil_azmi, Ustadz Adi Hidayat membeberkan cara cepat agar anak menghafal Alquran. “Pertama ibu dan bapak memperbanyak sekarang berdoa, minta kepada Allah didekatkan anak itu kepada Alquran,” ucapnya. Kedua, perangkat elektronik yang menyiarkan acara tidak bagus dihilangkan, lalu diganti dengan speaker yang bisa memutar ayat-ayat suci Alquran. “Robah perangkat di rumah jadi perangkat yang mendekatkan kepada Alquran. Mulai sekarang TV yang acaranya tidak bagus, hilangkan. Beli speaker aktif, putar Alquran. Ya, di ruangan tengah, di kamar bacakan Alquran, buka. Jadi nanti begitu ada, tiap waktu, 24 jam, putar Alquran,” tutur Adie Hidayat. Kemudian kepada orangtua yang anaknya ...

Cadas! Fahri Hamzah: Mereka Dihantui Rasa Takut Mencekam, Mereka Tahu Kita Akan Menang (2019)


Fahri Hamzah (viva.co.id)

Moslemcommunity.net - ADA YANG NGAJAK PERANG DI BULAN RAMADHAN. AKU LAYANI SATU PER SATU

Siapakah yang radikal dalam sejarah? Bukan orang beragama. Radikalisme itu produk komunis dan sekuler.

Tuduhan bahwa orang beragama (Islam) radikal baru muncul belakangan. Dan di bulan Ramadhan ini rasanya mereka mengumumkan perang. Aku akan layani satu persatu.

Dengan kacamata peradaban, kita akan tahu anatomi dari perang ini. Kita tahu kapan ia mulai, siapa yang memulai, yang meniupkan terompet komando dan yang memilih lokasi pertempuran. Kita juga tahu siapa yang dikorbankan. Dan cara mengeksekusinya.

Tapi untuk menghindari tuduhan bahwa merekalah yang berperang, mereka akan mengambil peran adu domba. Mereka berada di tengah, mereka menuduh kita tidak toleran, mereka mencari segudang alasan agar kita tidak dipercaya orang, agar kita disisihkan di pinggiran.

Peta yang rumit inilah yang akhirnya menjebak banyak orang. Termasuk kawan kita sendiri yang lugu dan kurang akal.

Perang ini memakan banyak korban tetapi umumnya, sebagaimana perang, perang ini korbannya rakyat. Kejahatan adu domba telah menjadi narasi resmi negara.

Pemerintah ini memang seperti membawa dendam. Gagal mencerna makna pertarungan dan arti kemenangan. Karenanya, negara justru digunakan untuk mempertahankan dualisme. Sampai di situ ok. Tapi kemudian melabel lawan dengan tuduhan ideologis itu masalahnya.

Mesin negara terus saja memproduksi tuduhan. Lalu upaya menjadi sekuler didendangkan. Dengan berbagai cara, ada yang sukses ada yang gagal.

Tetapi ketegangan tak bisa dihindarkan. Sampai muncul episode kedua; Ahok sebagai aktor dari seluruh yang tak nampak.

Sampai hari ini saya menduga, apakah Ahok dikirimkan ke pentas politik menjadi kebaikan bagi bangsa atau bagi agama? Atau bagi keduanya? Atau sebaliknya?

Sebab sepertinya ia telah melakoni sesuatu secara sempurna; menyeruaklah apa yang ada di alam bawah sadar kita.

Penistaan terhadap Alqur’an khususnya surat Almaidah 51 pada awalnya tidak mau dicerna secara dewasa. Mereka menganggap remeh.

Termasuk presiden dan para pejabat di sekitarnya. Tapi ini soal rasa, soal hati. Dan hal2 yang tak tampak. Sampai kemudian tumpah berupa manusia.

Jutaan orang yang datang dengan Damai tanpa dendam dan perasaan marah. Begitu saja, berjuta, tanpa komando, tanpa Organisasi penggerak massa, tanpa maksud lain kecuali mengungkap rasa, “kami ada dan kami hanya ingin agar keadilan tetap ada”. Begitulah.

Setelah peristiwa itu (212 dan vonis ahok -red) semua menjadi berbeda. Tapi entahlah, saya membaca ada dendam kesumat yang tak hentinya kepada kita. Kepada bangsa Indonesia, kepada Ummat beragama dan Islam khususnya. Dendam itu kadang muncul seperti erupsi gunung berapi. Tak ada hentinya.

Bayangkan, kesabaran yang begitu luas (dari Umat Islam-red), dada yang begitu lapang dan terbukti berabad-abad, terus diberi label tidak toleran bahkan ditambah dengan tuduhan lain yang lebih jahat dan label negatif yang tiada hentinya. Sehingga seperti susah betul menjadi orang Islam di sini.

Sekarang ada label baru, “Mendukung gerakan Radikal”. Label ini membuat seorang dosen pengajar Pancasila mau dipecat, mahasiswa mau di-drop out, ulama dan Ustadz kena delik ujaran kebencian dan partai politik minta dibubarkan, pejabat dilarang mengkritik penegak hukum, dll.

Ruang gerak kita sebagai warga negara mulai tidak bebas oleh cap yang sedang dikampanyekan. Kita mesti sabar. Ini ujian kecil bagi kita sebelum kita betul-betul memimpin bangsa ini supaya tenang, tenteram dan berdaulat. Ujian kita adalah para pengkhianat dari dalam.

Orang-orang ini selalu ada, mereka tidak paham bagaimana jutaan orang bisa unjuk rasa damai tanpa permintaan macam-macam kecuali keadilan. Mereka ingin bersama gelombang itu tapi tidak bisa. Ini sial yang tak mudah dibaca. Mereka akan gagal membaca.

Bersabarlah. Kita tahu apa yang sedang terjadi. Mereka tahu bahwa kita akan menang (di 2019 -red). Mereka dihantui rasa takut yang tidak terbayangkan. Adu domba mereka, kita akan halangi. Indonesia raya akan bergema melayani jiwa bangsa Indonesia yang mereka tak kunjung paham.

Jangan mau mengikuti kekacauan yang mereka rancang. Itu proyek mereka. Provokasi pejabat setingkat Ahok saja tak kita 'beli' dengan sembarang (Umat meresponnya dg cara damai bukan kekerasan -red). Dia lewat dengan baik, dan sedikit lagi. Upaya pengkhianatan akan kita akhiri. Dengan cara kita yang anggun dan matang.

Mari kita songsong kemenangan kita di depan mata. Jangan mau menengok dan terhalang. Tatapan ke depan. Tuntaskan perubahan. #IndonesiaGemilang2019

___
*dari twit @Fahrihamzah 20 Ramadhan 1439 / 4 Juni 2018

(PI)

[http://news.moslemcommunity.net]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Ustadz Adi Hidayat Agar Anak Cepat Hafal Alquran

Rayakan Pergantian Tahun, Kembang Api Meledak dan Terjadi Kebakaran, Ribuan Penonton di Pantai Sydney Dievakuasi

Polisi Siap Bubarkan Acara Ahmad Dhani di Solo karena Tak Keluarkan Izin, Begini Tanggapan Tegas Panitia